Informasi di Perpustakaan dapat
diperoleh dari buku, majalah, koran, karya civitas akademika dsb. Tidak semua orang yang memanfaatkan
perpustakaan mengetahui cara menemukan informasi di Perpustakaan. Ada kisah
seorang bapak yang menempuh S2 mencari informasi untuk mendukung thesisnya.
Beliau hanya ingat kata yang dicari yaitu linguistic. Mungkin karena beliau
jarang datang di perpustakaan tetapi dia dapat informasi tersebut dari karya
civitas akademika mahasiswa yang menyebutkan pengertian linguistic dan
menyebutkan menurut si A. Dengan PDnya
beliau langsung mencari di rak buku tanpa melakukan penelusuran di OPAC. Hampir
1 jam beliau mencari dan tidak memperoleh hasil kemudian ketemu sama pustakawan
di perpustakaan tersebut dan pustakawan menyapanya. Selamat siang pak, apa yang
bisa saya bantu? Kemudian bapak tersebut mengatakan bahwa beliau mencari informasi tentang
linguistic dan menurut si A. Lalu Pustakawan melakukan penelusuran di OPAC dan
sekaligus memberitahukan langkah-langkah melakukan penelusuran informasi di
Perpustakaan. Setelah informasi yang
dicari ditemukan di OPAC lalu pustakawan mencatat dan mencarikan informasi
tersebut di rak buku. Bapak tersebut mengucapkan terima kasih dan merasa senang
karena informasi yang dibutuhkan dapat diketemukan.
PUSTAKAWAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA JATENG Email : hermantob6969@yahoo.com
Jadilah Manusia Yang Bermanfaat Bagi Sesama
Jumat, 06 Desember 2013
Rabu, 27 November 2013
Perilaku Social Media (Hasil Wawancara dengan Ibu Tri Hardiningtyas)
Tri Hardiningtyas lahir
di Tegal 28 Mei 1963. Tri Hardiningtyas merupakan lulusan sekolah pascasarjana
jurusan ilmu perpustakaan Universitas Indonesia. Sejak tahun 1990 sampai
sekarang bekerja di UPT Perpustakaan UNS Surakarta, selanjutnya berkecimpung di
dunia perpustakaan sejak diangkat sebagai pustakawan di UNS pada tahun 1999.
Tri Hardiningtyas ingin
berbagi ilmu dan pengalaman kepada siapapun salah satunya dengan menulis,
khususnya rekan pustakawan, pemerhati perpustakaan, dan dunia perpustakaan pada
umumnya. Harapannya apa yang ditulis, apa yang dilakukan dapat bermanfaat bagi
siapa pun.
Beliau selain sebagai
pustakawan juga mengajar di D3 Ilmu Perpustakaan UNS dan mengarang buku. Adapun
buku yang telah terbit dengan judul Peduli
Perpustakaan dan Serbaneka pelayanan perpustakaan
Media social adalah
suatu media online
yang digunakan untuk menyampaikan informasi, berinteraksi, berkomunikasi,
berbagi ilmu dan pengalaman kepada orang lain. Adapun media yang digunakan
seperti facebook, twitter, blog, linkin,
dan myspace
Sedangkan Ibu Tri Hardingingtyas memberikan
gambaran tentang media social adalah sebuah sarana untuk menyebarluaskan
informasi, media promosi, tempat berbagi ilmu , alat berinteraksi dan
berkomunikasi antar pustakawan. untuk mempromosikan ilmu pengetahuan, informasi
melalui facebook, blog, twitter, email dan lain sebagainya.
Adapun media social
yang digunakan oleh Ibu Tri Hardingingtyas antara lain facebook,
blog dan email. Beliau dapat dihubungi melalui email thardiningtyas@yahoo.co.id atau thardiningtyas@gmail.com dapat juga melalui facebook https://www.facebook.com/#!/
thardiningtyas?fref=ts dan blog
trihanda.blogspot.com
Menurut ibu Tri Hardiningtyas tujuan menggunakan
social media antara lain:
1. Sebagai
alat mempromosikan karya ilmiah
2. Menyebarluaskan
informasi
3. Berbagi
ilmu pengetahuan
4. Mencari
dan menambah teman
5. Silahturahim
antar pustakawan dan masyarakat umum
6. Sebagai
alat mempromosikan perpustakaan
7. Pengumuman
tentang jam buka perpustakaan
8. Untuk
tempat berlatih menulis
Selasa, 19 November 2013
Pelayanan Sumber Informasi di UPT Perpustakaan UNS (Antara Kenyataan dan Harapan)
Oleh Bambang Hermanto (Pustakawan UNS)
Pendahuluan
Sudah menjadi tuntunan zaman bahwa
perpustakaan didirikan tidak hanya sekedar untuk mengumpulkan, menyiapkan, dan
meninjamkan buku-buku dan bahan-bahan lainnya kepada pemustaka akan tetapi
mempunyai tugas dalam pemberian pelayanan yang bersifat lebih luas dan lebih
aktif lagi.
Informasi di berbagai bidang dan sektor
berkembang sangat pesat seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi karena adanya globalisasi di bidang teknologi informasi dan
telekomunikasi. Banyak hasil karya dan publikasi dihasilkan oleh lembaga atau
penerbit. Karya-karya tersebut di
publikasi secara tercetak dan secara elektronis yang dapat diakses melalui
internet. [1]
Perpustakaan perguruan tinggi merupakan
unit pelaksana teknis perguruan tinggi yang bersama-sama dengan unit lain turut
melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan cara memilih, menghimpun,
mengolah, merawat dan melayankan sumber informasi kepada lembaga induknya pada
khususnya dan masyarakat akademis pada umumnya[2]
UPT Perpustakaan UNS yang berada di
tengah-tengah kampus UNS menjadi salah satu sarana kelengkapan pendidikan dalam
melayani civitas akademika UNS , lembaga atau instansi lain dalam bidang
informasi dan pustaka. UPT Perpustakaan UNS memiliki koleksi 171.071 judul berjumlah 328.702
buku/keeping/file untuk menunjang
program UNS. Pelayanan koleksi dilakukan dengan sistem terbuka (open access),
yaitu para pemakai jasa perpustakaan dengan bebas memilih, mengambil sendiri
koleksi yang dikehendaki untuk dibaca sekilas atau dipinjam[3]
Kualitas pelayanan perpustakaan perguruan
tinggi dapat ditunjukkan dari persepsi pemustaka terhadap perpustakaan, yaitu
kualitas yang dipikirkan oleh pemustaka setelah mendapatkan pelayanan. Komponen
penting dalam pengukuran kualitas pelayanan adalah pelayanan yang diharapkan
dan pelayanan yang diterima. Kualitas pelayanan dipersepsikan baik apabila pelayanan
yang diberikan perpustakaan sesuai atau bahkan melebihi apa yang diharapkan
pemakai.[4]
Perpustakaan sebagai sumber informasi akan
dimanfaatkan pemustaka apabila sumber informasi dikelolanya dengan baik dan mempunyai
pustakawan yang dapat menjadi perantara antara pemustaka dan sumber informasi.[5]
Hal
tersebut merupakan persoalan yang perlu mendapat tanggapan positif dari
perpustakaan sebagai salah satu lembaga penyedia informasi. Harapan untuk
mendapatkan informasi yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka berada pada pundak
perpustakaan dan pustakawan.
Permasalahan
Dari
uraian diatas dapat maka muncul pemasalahan “Bagiaman kualitas pelayanan sumber
informasi di UPT Perpustakaan UNS ?
Pembahasan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia[6]
pengertian pelayanan adalah merupakan kemudahan yang diberikan sehubungan
dengan proses jual beli barang dan jasa. Sedangkan menurut Fred Luthans yang
dikutip dalam bukunya Moenir (1995:16) pelayanan adalah sebuah proses pemenuhan
kebutuhan melalui aktifitas orang yang menyangkut segala usaha yang dilakukan
orang lain dalam rangka mencapai tujuannya. Menurut Fandy Tjiptono [7]
definisi jasa (layanan) adalah setiap tindakan atau perbuatan yang dapat
ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya bersifat
intangible yang berhubungan dengannya, yang melibatkan beberapa interaksi
dengan konsumen atau dengan properti dalam kepemilikannya dan tidak
menghasilkan transfer kepemilikan. Dari
beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa :
a. Pelayanan merupakan suatu kemudahan yang
timbul karena adanya transaksi jual beli barang dan jasa
b. Pelayanan merupakan suatu proses pemenuhan
kebutuhan melalui suatu aktifitas atau kegiatan orang lain
c. Pelayanan memiliki unsur ketidakwujudan (intangbility)
d. Subyek pelayanan adalah pelanggan yang dapat
memberikan suatu reaksi yang berbeda terhadap pelayanan yang kelihatannya sama
Sedangkan informasi secara istilah memiliki pengertian yang beragam.
Dalam bidang ilmu perpustakaan dan informasi, informasi telah diartikan oleh
para pakar sbb:
b. Sondang P. Siagian memaknai informasi sebagai
data yang sudah diolah sedemikian rupa
menjadi sebuah informasi. Hanya informasilah yang mempunyai
nilai untuk memudahkan orang mengambil keputusan [9]
nilai untuk memudahkan orang mengambil keputusan [9]
c.
Putu Laxman
Pendit menyebutkan tiga pengertian informasi. Secara sempit informasi berarti
serangkaian sinyal atau pesan-pesan yang diperlukan dalam pengambilan
keputusan. Secara luas, pengertian informasi berkaitan dengan proses kognitif
dan kemampuan memahami pada diri manusia. Informasi dalam pengertian paling
luas (broadest sense) tidak hanya
terpaku pada pesan (pengertian sempit) atau proses kognitif (pengertian luas)
semata, tetapi lebih dari itu selalau berhubungan dengan konteks sosialnya
berupa situasi, persoalan, kaitan tugas dan sebagainya. [10]
Dari beberapa pengertian di atas,
dapat disimpulkan bahwa informasi adalah data yang sudah diolah, atau sebagai
hasil dari proses pengolahan data. Informasi
merupakan data yang memiliki makna dan manfaat, karena dapat dijadikan pegangan
untuk sebuah argumentasi atau pengambilan keputusan. Jadi pelayanan informasi
adalah pemberian layanan kepada masyarakat yang mempunyai kepentingan dalam
pemenuhan kebutuhan akan informasi dengan mematuhi peraturan-peraturan yang
telah ditetapkan serta prosedur yang ditentukan Untuk
bisa memberikan layanan yang sesuai dengan kebutuhan user maka perpustakaan
sebagai salah satu lembaga penyedia informasi harus memiliki visi yang jelas
dan dapat menjawab tantangan dari masa ke masa. Pada dasarnya Visi Perpustakaan
apapun jenis perpustakaannya adalah memberdayakan koleksi bahan pustaka dan
memberikan kemudahan, ketersediaan, kenyamanan serta layanan yang optimal demi kepuasan
penggunanya. Soejono
Trimo [11] mengatakan bahwa : Library is the
preservation of knowledge artinya memburu, mengumpulkan, menyimpan,
mengolah dan melayankan ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya baik dalam
bentuk tercetak maupun elektronik. Dengan demikian fungsi perpustakaan adalah
sebagai jembatan atau perantara antara koleksi dengan pengguna, sebagai
penghubung antara bahan pustaka dengan masyarakat. Bagaimana masyarakat dapat
mengetahui informasi yang ada dalam bahan pustaka ataupun sebaliknya bagaimana
agar informasi dapat sampai kepada masyarakat yang membutuhkannya.
Jenis-jenis layanan di UPT Perpustakaan UNS [12]…………………………………….
a. Layanan sirkulasi dan koleksi, layanan peminjaman dan pengembalian buku
Jenis-jenis layanan di UPT Perpustakaan UNS [12]…………………………………….
a. Layanan sirkulasi dan koleksi, layanan peminjaman dan pengembalian buku
- Layanan
referensi dan penelusuran informasi
- Layanan
holiday loan, merupakan layanan yang diberikan menjelang hari libur dan
dikembalikan pada hari pertama masuk sebelum jam 9.00 wib
- Layanan
bimbingan pemustaka, misalnya ceramah, diskusi, orientasi
perpustakaan
- Layanan TA,
skripsi, thesis dan desertasi, Koleksi ini dalam bentuk hard kopi yang
disusun dan dikelola berdasarkan fakultas. Pemustaka dapat baca ditempat
dan fotokopi lewat pustakawan
- Layanan
pengetikan, perpustakaan menyediakan 9 komputer dan printer untuk
dimanfaatkan pemustaka dalam menyelesaikan tugas perkuliahan
- Layanan
internet, dimana internet merupakan media komunikasi yang menawarkan berbagai fasilitas dan
memperpendek komunikasi
- Layanan
majalah dengan berlangganan beberpa judul majalah dan jurnal untuk dibaca
ditempat dan foto kopi
- Layanan
bebas perpustakaan, merupakan layanan kepada pemustaka dengan cara memberikan surat bebas pinjam untuk
syarat wisuda
- Layanan
kartu anggota
- Pelayanan ruang baca, perpustakaan menyediakan
ruang untuk membaca di tempat. Penyediaan fasilitas ruang tersebut
dimaksudkan untuk menunjang kegiatan belajar
- Penyajian informasi terbaru/current awareness
service (CAS), merupakan sistem penyajian informasi dengan menyiagakan
informasi baru lalu segera menyampaikannya kepada pemustaka
Adapun jenis koleksi yang dimiliki UPT
Perpustakaan UNS adalah [13]……………….
a. Koleksi buku-buku terdiri dari buku teks
a. Koleksi buku-buku terdiri dari buku teks
b. Koleksi terbitan berkala, terdiri dari
majalah, buletin, koran, jurnal, laporan penelitian, dan pengabdian pada
masyarakat,
c. Koleksi khusus, terdiri dari: tesis, skripsi,
desertasi dan TA
d. Koleksi elektronik, terdiri dari
e-journal, e-book, digital library, CD, kaset, dan disket
Layanan informasi perpustakaan yang jadi
harapan pemustaka
Dalam perannya perpustakaan menyediakan dan melayankan segala informasi
akan menghadapi berbagai kategori informasi atau produk yang dihasilkan untuk
dilayankan kepada pemustaka. Adapun layanan informasi yang dibisa dikembangkan
di UPT Perpustakaan UNS antara lain :
a. Penyajian
informasi terbaru/current awareness service (CAS), merupakan sistem penyajian
informasi dengan menyiapkan informasi baru lalu segera menyampaikannya kepada
pemustaka. Pemustaka dapat memilih judul artikel yang cocok dan sesuai dengan
kebutuhannya
b.
Information refererral, layanan perpustakaan yang
diberikan kepada pemustaka dengan menunjuk atau me-refer kepada lembaga lain.
Misalnya seorang pembaca menanyakan bagimana mendapatkan informasi mengenai KB?
Maka pustakawan menunjuk BKKBN untuk mendapat informasi yang lebih kelas dan
akurat
c.
Selective Dissemination of Information (SDI),
Penyebaran informasi terp[ilih untuk perpustakaan yang sudah berkomputer atau
ada akses data bank informasi dapat memilih judul-judul dan abstraknya kemudain
diberikan kepad pembaca yang memesannya
d.
Current contents , merupakan layanan informasi dari isi
majalah terbaru
e.
Layanan bibliografi, jasa layanan perpustakaan dalam
bentuk pustakawan memberikan bantuan kepada pemustaka untuk menemukan informasi
literatur mengenai suatu subyek tertentu. Bibliografi disediakan dipeprustakaan untuk
memberi kesempatan kepada pemustaka untuk mendapatkan informasi litertur yang
diiinginkan meskipun literatur tersebut tidak tersedia di perpustakaan.
f.
Informasi, misalnya tentang arah ke loket peminjaman,
jam buka perpustakaan, kondisi statistik koleksi, denda, pembayaran bebas
pustaka dll
g.
Konsultasi, seperti pemberian saran atau konsultasi
penelusuran informasi, manajemen perpustakaan
h.
Order taking, meliputi aplikasi atau pendaftaran
keanggotaan pada jasa pelayanan
i.
Exceptions, yang meliputi permintaan khusus sebelum
menyampaikan produk jasa, mengenai komplain saran dan pujian pengguna,
pemecahan masalah dan kesulitan-kesulitan yang timbul berkaitan dengan masalah
staf perpustakaan
Strategi peningkatan kualitas layanan
Pada dasarnya perpustakaan yang baik dapat diukur dari keberhasilannya
dalam menyajikan pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat pemakainya.
Lengkapnya fasilitas yang ada, besarnya dana yang disediakan dan banyaknya
tenaga pustakawan tidak berarti apa-apa apabila perpustakaan tersebut tidak
mampu menyediakan pelayanan yang berkualitas.
Zeithaml et al dalam Syihabuddin Qalyubi
[14] terdapat
lima prinsip
yang harus diperhatikan oleh pengelola perpustakaan agar kualitas layanan dapat
dicapai yaitu
a.
Tangible, yaitu bentuk fasilitas fisik, sarana,
personalia, dan media komunikasi.
b.
Reliabilitas, yaitu kemampuan menyajikan layanan yang
dijanjikan secara akurat dan merdeka.
c.
Responsivitas, yaitu kemampuan membantu konsumen dan
penyediaan layanan yang cepat.
d.
Jaminan, yaitu pengetahuan dan rasa hormat petugas
perpustakaan dan kemampuannya dalam menyakinkan dan dapat dipercaya.
e.
Empati, yaitu
perhatian terhadap setiap pemakai secara individu.
Selain itu kualitas layanan di perpustakaan juga ditentukan oleh beberapa
hal yaitu ketersediaan informasi, kemudahan akses informasi, keakuratan
informasi, kelengkapan informasi, kelayakan sumber informasi dan ketepatan
waktu
Beberapa strategi yang dapat
digunakan dalam meningkatkan kualitas layanan perpustakaan antara lain :
- Pengembangan database yang lebih akurat, termasuk data kebutuhan dan keinginan setiap segmen pemakai dan perubahan kondisi
- Pustakawan mempunyai kemampuan memahami kebutuhan dan keinginan pemustaka serta memahami tipe-tipe pemustaka
- Pemanfaatan informasi yang diperoleh dari riset pasar dalam suatu kerangka strategis
- Pemustaka mampu menjalin kemitraan dengan pemustaka secara terus menerus kemudian menimbulkan kesetiaan pemustaka kepada perpustakaan
- Menawarkan pelayanan yang lebih menarik
- Strategi yang berintikan komitmen untuk memberikan kepuasan pemustaka yang akan menjadi sumber dinamisme penyempurnakan mutu pelayanan dan kinerja perpustakaan
- Strategi penanganan keluhan yang efekstif dengan cara menyelesaikan penangan keluhan secara baik
- Kemudahan bagi pemustaka untuk menghubungi perpustakaan
- Alih bentuk informasi atau adanya perubahan bentuk, Agar informasi menjadi menarik maka sebaiknya perpustakaan melakukan berbagai perubahan bentuk (alih bentuk) informasi yang ada pada bentuk-bentuk lain yang lebih menarik sehingga informasi dapat di desiminasikan dengan cepat, tepat, akurat dan global. Adapun ben
·
Bahan
Pustaka tercetak ke bahan pustaka tercetak
·
Bahan
Pustaka tercetak ke bahan pustaka elektronik
·
Bahan
Pustaka elektronik ke bahan pustaka tercetak
·
Bahan
Pustaka elektronik ke bahan pustaka elektronik
- Adanya faktor pendukung dalam pelayanan antar lain :
- Koleksi / bahan pustaka, merupakan faktor utama dalam layanan perpustakaan. Bahan Pustaka dapat dilihat dari jenis dan bentuknya. Jenis bahan pustaka meliputi koleksi : 1) tercetak; 2) tergambar; 3) terbentuk dan 4) elektronik seperti : terekam, mikro, web. Adapun bentuk koleksi bahan pustaka dapat berbentuk (1) lembaran; (2) lipatan; (3) bendelan/jilidan; (4) rekaman; (5) dll.
- User/pengguna adalah masyarakat yang datang untuk memanfaatkan koleksi yang ada. Agar dapat memberikan layanan yang baik maka pengelola perpustakaan harus memperhatikan jurusan dan fakultas dari pemustaka
- Tenaga atau pengelola perpustakaan, dalam hal ini perlu dibedakan antara tenaga fungsional (pustakawan) dengan tenaga administrasi (non pustakawan). Disamping itu perlu diperhatikan bahwa pengelola perpustakaan sebaiknya : (1) Memiliki pendidikan tentang kepustakawanan; (2) Memiliki ketrampilan pemanfaatan teknologi informasi; (3) Memiliki ketrampilan bahasa; (4) Mengetahui kebutuhan pemakainya; dan (5) Memiliki sense of media.
- Fasilitas, merupakan sarana dan prasarana yang disediakan oleh perpustakaan demi memberikan layanan kepada pemustaka
- Anggaran, merupakan kesiapan biaya/anggaran yang dapat dipakai dalam segala kegiatan di perpustakaan yang dapat diperoleh dari : APBN, APBD/DIPA, dan mahasiswa baru
- managemen, merupakan sistem perencanaan, pengorganisasian, pengelolaan serta evaluasi kegiatan di perpustakaan yang meliputi kebijakan pengambil keputusan (decision maker).
Kesimpulan
Perpustakaan yang baik dapat diukur dari keberhasilannya dalam menyajikan
pelayanan yang berkualitas kepada pemustaka. Lengkapnya fasilitas yang ada,
besarnya dana yang disediakan dan banyaknya tenaga pustakawan tidak berarti apa-apa
apabila perpustakaan tersebut tidak mampu menyediakan pelayanan yang
berkualitas.
Perpustakaan
didirikan tidak hanya sekedar untuk
mengumpulkan, menyiapkan, meminjamkan buku-buku dan bahan-bahan lainnya
kepada pemustaka tetapi mempunyai tugas
dalam pemberian pelayanan yang lebih luas dan lebih aktif lagi. Dibutuhkan kejelian, keseriusan, kemampuan dan kemauan dari UPT
Perpustakaan UNS secara institusi maupun pengelolanya selaku pelaksana kegiatan
agar dapat memberikan layanan yang optimal dalam rangka memberikan kepuasan pemustaka.
UPT Perpustakaan UNS dapat menerapkan
strategi baru untuk pengembangan pelayanan informasi dan melakukan pengemasan
ulang koleksi dalam bentuk digital.
Daftar Pustaka
------------ 1997. Kamus besar bahasa Indonesia . Jakarta : Balai Pustaka
Pendit, Putu Laxman.
2003. Penelitian Ilmu Perpustakaan dan
Informasi : Suatu
Pengantar Diskusi Epistemologi dan Metodologi.Jakarta
: JIP-FSUI
Pengantar Diskusi Epistemologi dan Metodologi.
Profil UPT Perpustakaan UNS. 2011.
http://uns.ac.id/perm_perpustakaan-pusat.html
diakses tgl. 4 Januari 2013 jam 9.45 wib
diakses tgl. 4 Januari 2013 jam 9.45 wib
Qalyubi, Syihabuddin dkk
2003. Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan Dan Informasi.
Yogyakarta
: IAIN Sunan Kalijaga
Sri Hartinah. 2010 Penelusuran
Literatur. Jakarta
: UT
Siagian, Sondang P. 1979. Sistem
Informasi untuk Pengambilan Keputusan. Jakarta :
Gunung Agung
Gunung Agung
Siagian, Sondang P.
2005. Sistem Informasi Manajemen. Jakarta : Bumi Aksara
Tjiptono, Fandy. 1996. Manajemen Jasa.Yogyakarta
: Andi
Trimo, Soejono. 1981. Buku Panduan Ringkas bagi Usaha Penyempurnaan Pusat
Dokumentasi Riset.Bandung :
PIP-FIP-IKIP.
Tjiptono, Fandy. 1996. Manajemen Jasa.
Trimo, Soejono. 1981. Buku Panduan Ringkas bagi Usaha Penyempurnaan Pusat
Dokumentasi Riset.
Yuventia, Yuniwati http://digilib.undip.ac.id/index.php/component/content/article/38-
artikel/48-manajemen-layanan-informasi-di-perpustakaan diakses tgl. 4 Januari
artikel/48-manajemen-layanan-informasi-di-perpustakaan diakses tgl. 4 Januari
2013 jam 8.30 WIB
Undang-Undang RI No 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan
[2]
Syihabuddin Qalyubi dkk, Dasar-Dasar
Ilmu Perpustakaan dan Informasi (Yogyakarta : 2003), hal. 10
[3]
Profil UPT Perpustakaan UNS. http://uns.ac.id/perm_perpustakaan-pusat.html
diakses tgl. 4 Januari 2013 jam 9.45 WIB
[4] Fandy Tjiptono, Manajemen Jasa ( Yogyakarta : 1996), hal. 51
[5] Sri Hartinah,
Penelusuran Literatur, hal. 1.2
[6] Kamus Besar Bahasa Indonesia ( Jakarta :
1996), hal. 571
[7] Fandy Tjiptono, Manajemen Jasa, hal. 6
[8] Soejono Trimo, Buku Panduan Ringkas bagi
Usaha Penyempurnaan Pusat Dokumentasi Riset (Bandung:1981)
[9]
Sondang P. Siagian, Sistem Informasi untuk Pengambilan Keputusan (Jakarta : 1979), hal. 51
[10] Putu Luxman Pendit, Penelitian Ilmu
Perpustakaan dan Informasi : Suatu Pengantar Diskusi Epistemologi dan
Metodologi (Jakarta : 2003)
[11] Soejono Trimo, Buku Panduan Ringkas bagi
Usaha Penyempurnaan Pusat Dokumentasi Riset, hal.2
[12] M. Radjiem,
Wawancara dengan Koordinator Pendidikan Pemakai dan Promosi Perpustakaan
UNS Pada Tanggal 2 Januari 2013 Jam. 10.00 WIB
[13] Ibid
[14] Syihabuddin Qalyubi dkk, Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi,
hal. 219
Kamis, 16 Agustus 2012
Mengukur kegagalan dan keberhasilan Puasa
Sumber dari : http://arif-dian.blogspot.com/2010/08/mengukur-kegagalan-dan-keberhasilan.html
Dalam kita melaksanakan semua perintah, termasuk perintah Allah, idealnya, memahami tujuan perintah tersebut, agar dapat mencapai hasil yang maksimal dan mengetahui sejauh mana kualitas pekerjaan kita, tingkat keberhasilan kita dan segalanya. Seorang anak yang melaksanakan perintah orang tuanya agar bersekolah bilamana ia tidak mengerti untuk apa dia bersekolah atau ia tidak mengerti tujuan orang tua nya untuk apa ia bersekolah, akibatnya anak itu menjalankan asal asalan saja.
Demikian halnya, dalam kita melaksanakan puasa orang yang mengetahui tujuan puasa dalam menjalankan ibadah puasa juga akan berbeda baik dalam penerapannya maupun dalam hasil yang diperolehnya berkaitan dengan pengetahuan atau kepribadian. Allah dalam memberikan perintah biasanya ditunjukkan juga tujuannya, tetapi sifatnya masih umum, menegani detailnya diserahkan kepada manusianya sendiri untuk mencarinya karena al quran merupakan petunjuk yang bersifat umum. baca selengkapnya
TUJUAN BERPUASA
Tujuan berpuasa sebagaimana tertulis dalam QS Al Baqarah 183. Kalau menurut tinjauan Syar’inya, seperti tertulis dalam QS Al Baqarah 177 yakni
“ Bukanlah menghadapkan wajahmu kearah timur dan barat itu suatu kebajikan akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, Hari kemudian, malaikat malaikat, kitab kitab, nabi nabi dan memberikan musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang yang meminta minta dan hamba sahaya, mendirikan sholat dan menunaikan zakat dan orang orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji dan orang orang yang sabar dalam kesempitan dan penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang yang benar dan mereka itulah orang yang bertaqwa. “
Tujuan puasa tidak mengarah pada pembentukan kesehatan seperti olah raga melainkan pembentukan moral dan perilaku yang sesuai dengan nilai dan norma dalam Islam.
Sekarang kita perlu pahami mengenai hubungan apa, jalinan system yang bagaimana, antara puasa dengan pembentukan kepribadian taqwa, bagaimana prosesnya puasa dapat membangun seseorang menjadi pribadi takwa, pribadi yang dapat menghindari diri dari kedosaan dan berpacu dalam kebaikan. Dari landasaan tujuan ini, akan dapat dijadikan standar untuk mengukur keberhasilan dan kegagalan seseorang muslim dalam berpuasa. Tapi permasalahan hidup beragama atau pengabdian diri kepada Allah tidak cukup dengan mendapat pengakuan saja melainkan yang lebih penting adalah kualitasnya, karena kualitas itu akan menjadi bekal menghadapi tantangan hidup dijalan Allah, tanpa kualitas hampir dipastikan mereka akan gagal menghadapi tantangan hidup dijalan Allah.
Proses Puasa Ke Takwa
Kata puasa atau kata ashiiyam, menurut al Maraghi ialah mengekang rasa, menahan diri dari sesuatu, makna khusunya ialah menahan diri tidak makan tidak minum dan bersetubuh sejak fajar hingga matahari terbenam. Pengertian puasa menurut pandangan kami, dengan bersandar pada realitas psikologis ialah orang yang menahan diri tidak makan ketika dalam diri ada dorongan makan(lapar) menahan minum ketika dalam diri kita ada dorongan minum(haus) menahan dorongan menyalurkan seks ketika ada rangsangan seks. Menahan diri dari mencela,menghibah,menghina, menyombongkan diri ketika ada dorongan emosi tersebut, untuk suatu tujuan membangun kepribadian tangguh, orang yang tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan emosinya ,bangunan pribadinya akan labil dan ditentukan oleh keadaan perasaannya.
Allah menjadikan manusia sebagai makhluk yang berakal, juga berperasaa, dengan akalnya, manusia dapat mengenal berbagai realitas alam dan manusia dengan perasaanya manusia dapt merasakan berbagai kenikmatan dan menghindari diri daridari berbagai bentuk kesakitan, baik jasmaniah dan rohaniah. Tapi disisi lain manusia adalah makhluk sosial, ia terikat hukum sosial yakni saling membutuhkan, saling menghargai hak dan kewajiban, saling memelihara lingkungan dari berbagai hal yang dapat merusaknya. Sifat dari akal adalah ialah melihat kenyataan di lapangan, sedangkan sifat dari perasaan adalah menuntut terpenuhi gejolak rasanya tanpa melihat hak dan kewajibansosial ketika manusia merasakan lapar akalnya berjalan untuk memenuhi kebutuhan perasaan laparnya, tetapi ia juga memperhatikan makanan apa yang boleh dimakan dan makanan apa yang tidak boleh dimakan, sedangkan perasaan laparnya tidak memeperdulikan itu semua ia hanya ingin sesuatu yang dapat memenuhi rasa laparnya apakah makana tersebut dimasukkan dari hasil mencuri atau bekerja. Ketika manusia dalam perasaan marah, secara perasaan ingin melampiaskan seluruh kemarahannya kepada orang yang membuuat marah tanpa melihat akibat yang ditimbulkan, atau ketika seorang terlibat dalam rasa cinta, ada dorongan kuat untuk menyalurkan seluruh rasa cintanya pada mereka yang dicintai dalam bentuk apapun tanpa melihat halal dan haramnya dll. Hanya kemampuan akalnya yang dapat mengerem semua tindakan emosionalnya dan jika akalnya tidak dapat menjadi rem yang baik maka, terapi yang baik adalah latihan membiasakan diri menahan dari tindakan emosional, lewat system puasa, adri sini akan lahir pengalaman baru dan kepribadian baru.
Perilaku Puasa
Dari pemikiran diatas, maka selayaknya orang berpuasa menyadari bahwa dirinya menghadapi latihan pengendalian dari berbagai emosi dan selalu melakukan evaluasi, khusunya pada akhir Ramadhan dengan I’tikaf. Dengan ini maka, perilaku orang yang berpuasa tidak hanya sekedar tidak makan-tidak minum, akan tetapi yang lebih dominana adalah menjaga tingkat emosi kita dalam menghadapai berbagai hal,tidak makan dan tidak minum bukan tujuanm ia hanya merupakan system utnuk latihan pengendalian emosi.
Menjaga emosi disaat orang dalam keadaan lapar memang berat karena pada kondisi ini seseorang mudah emosi sehingga perlu bagi rang berpuasa membuat system pengendalian emosi sebagai berikut:
1. Sistem kesadaran
Kesadaran doktriner
a. Kesadaran tentang larangan menuruti emosi
b. Kesadaran bahwa kami sedang latihan dan diuji untuk mengendalikan emosi
c. Bilamana berkaitan dengan orang lain mudah memaafkan
Kesadran pragmatis, membiasakan diri untuk melakukan tindakan atau perbuatan dengan mempertimbangkan fitrah manusia yakni benar dan salah, untung dan rugi.
2. Menutup jalan emosi
Orang yang emosi pasti ada sebab dan akibatnya, sebabnya bias lewat budaya,pembiasaan,kekeliruan, atau penyakit akibatnya dapat ke pikiran dan ke fisik, utnuk mentup jalan yang dapat membawa emosi yang berhubungan dengan sebab dapat dilakukan dengan mengoreksi budaya, tidak melakukan pembiasaan emosi atau tidak tergesa gesa dalam merespon, sedagkan yang berkaitan dengan aspek piker dapat dilakukan dengan cara mengabaikan atau berpikir positif modelnya bias lewat dzikir, meningakatkan kesibukan dan silaturahmi. Bilamana telah sampai ke jantung dapat dilakukan dengan cara latihan pernafasan.
3. HIjrah, tidak memasuki pada jaln jalan atau aktifitas yang dapat mengantarkan kita pada tindakan emosional, langkah ini dipandang sebagai yang terakhir karena system hijrah punya konsekuensi tinggi yaitu harus melepaskan segala hal hal yang positif. Perlu saya tekankan disini emosi bukan gambaran dari kekerasan meliankan juga dapat berbentuk keharmonisan, cinta kasih dan belas kasihan. Standarnya ialah tindakan yang tidak berdasarkan pengamatan empiris, benar salah, pertimbangan untung rugi melainkan Karena dororngan dorongan perasaan yang berkobar kobar.
Sistem perilaku praktis ialah:
1. Melaksanakan puasa dapat diterima dengan perasaan lapang, ringan syukur.
2. Dalam menghadapi dorongan emosi makan/minum, khususnya pada waktu berbuka hendaknya dilakukan secara wajar.
3. Bangun malam utnuk melaksanakan sahur hendaknya dilakukan secara rutin dan dengan makan yang bergizi.
4. Melakukan control nila dalam melakukan komunikasi
5. Jangan mengikuti dorongan emosi khusunya emosi seks
Puasa Yang Berhasil
Berdasarkan pemikiran diatas, utnuk mengukur keberhasilan dan kegagalan dalam berpuasa dapat dilihat dari kemampuannya mengendalikan emosi dalam menjalankanperintah Allah dengan menjalankan perintah Allah dan menghadapi hambatannya maka nilai keberhasilannya tinggi sebaliknya orang yang tidak ada perubahan mengendalikan emosi dalam melaksanakan perintah maka dapat dipastikan kegagalan atau rendahnya kualitas puasanya. Orang yang berhasil puasanya akan mudah menjalankan semua yang diperintahkan Allah meskipun harus mengorbankan segalanya, inilah yang disebut PRIBADI TAKWA
Dalam kita melaksanakan semua perintah, termasuk perintah Allah, idealnya, memahami tujuan perintah tersebut, agar dapat mencapai hasil yang maksimal dan mengetahui sejauh mana kualitas pekerjaan kita, tingkat keberhasilan kita dan segalanya. Seorang anak yang melaksanakan perintah orang tuanya agar bersekolah bilamana ia tidak mengerti untuk apa dia bersekolah atau ia tidak mengerti tujuan orang tua nya untuk apa ia bersekolah, akibatnya anak itu menjalankan asal asalan saja.
Demikian halnya, dalam kita melaksanakan puasa orang yang mengetahui tujuan puasa dalam menjalankan ibadah puasa juga akan berbeda baik dalam penerapannya maupun dalam hasil yang diperolehnya berkaitan dengan pengetahuan atau kepribadian. Allah dalam memberikan perintah biasanya ditunjukkan juga tujuannya, tetapi sifatnya masih umum, menegani detailnya diserahkan kepada manusianya sendiri untuk mencarinya karena al quran merupakan petunjuk yang bersifat umum. baca selengkapnya
TUJUAN BERPUASA
Tujuan berpuasa sebagaimana tertulis dalam QS Al Baqarah 183. Kalau menurut tinjauan Syar’inya, seperti tertulis dalam QS Al Baqarah 177 yakni
“ Bukanlah menghadapkan wajahmu kearah timur dan barat itu suatu kebajikan akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, Hari kemudian, malaikat malaikat, kitab kitab, nabi nabi dan memberikan musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang yang meminta minta dan hamba sahaya, mendirikan sholat dan menunaikan zakat dan orang orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji dan orang orang yang sabar dalam kesempitan dan penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang yang benar dan mereka itulah orang yang bertaqwa. “
Tujuan puasa tidak mengarah pada pembentukan kesehatan seperti olah raga melainkan pembentukan moral dan perilaku yang sesuai dengan nilai dan norma dalam Islam.
Sekarang kita perlu pahami mengenai hubungan apa, jalinan system yang bagaimana, antara puasa dengan pembentukan kepribadian taqwa, bagaimana prosesnya puasa dapat membangun seseorang menjadi pribadi takwa, pribadi yang dapat menghindari diri dari kedosaan dan berpacu dalam kebaikan. Dari landasaan tujuan ini, akan dapat dijadikan standar untuk mengukur keberhasilan dan kegagalan seseorang muslim dalam berpuasa. Tapi permasalahan hidup beragama atau pengabdian diri kepada Allah tidak cukup dengan mendapat pengakuan saja melainkan yang lebih penting adalah kualitasnya, karena kualitas itu akan menjadi bekal menghadapi tantangan hidup dijalan Allah, tanpa kualitas hampir dipastikan mereka akan gagal menghadapi tantangan hidup dijalan Allah.
Proses Puasa Ke Takwa
Kata puasa atau kata ashiiyam, menurut al Maraghi ialah mengekang rasa, menahan diri dari sesuatu, makna khusunya ialah menahan diri tidak makan tidak minum dan bersetubuh sejak fajar hingga matahari terbenam. Pengertian puasa menurut pandangan kami, dengan bersandar pada realitas psikologis ialah orang yang menahan diri tidak makan ketika dalam diri ada dorongan makan(lapar) menahan minum ketika dalam diri kita ada dorongan minum(haus) menahan dorongan menyalurkan seks ketika ada rangsangan seks. Menahan diri dari mencela,menghibah,menghina, menyombongkan diri ketika ada dorongan emosi tersebut, untuk suatu tujuan membangun kepribadian tangguh, orang yang tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan emosinya ,bangunan pribadinya akan labil dan ditentukan oleh keadaan perasaannya.
Allah menjadikan manusia sebagai makhluk yang berakal, juga berperasaa, dengan akalnya, manusia dapat mengenal berbagai realitas alam dan manusia dengan perasaanya manusia dapt merasakan berbagai kenikmatan dan menghindari diri daridari berbagai bentuk kesakitan, baik jasmaniah dan rohaniah. Tapi disisi lain manusia adalah makhluk sosial, ia terikat hukum sosial yakni saling membutuhkan, saling menghargai hak dan kewajiban, saling memelihara lingkungan dari berbagai hal yang dapat merusaknya. Sifat dari akal adalah ialah melihat kenyataan di lapangan, sedangkan sifat dari perasaan adalah menuntut terpenuhi gejolak rasanya tanpa melihat hak dan kewajibansosial ketika manusia merasakan lapar akalnya berjalan untuk memenuhi kebutuhan perasaan laparnya, tetapi ia juga memperhatikan makanan apa yang boleh dimakan dan makanan apa yang tidak boleh dimakan, sedangkan perasaan laparnya tidak memeperdulikan itu semua ia hanya ingin sesuatu yang dapat memenuhi rasa laparnya apakah makana tersebut dimasukkan dari hasil mencuri atau bekerja. Ketika manusia dalam perasaan marah, secara perasaan ingin melampiaskan seluruh kemarahannya kepada orang yang membuuat marah tanpa melihat akibat yang ditimbulkan, atau ketika seorang terlibat dalam rasa cinta, ada dorongan kuat untuk menyalurkan seluruh rasa cintanya pada mereka yang dicintai dalam bentuk apapun tanpa melihat halal dan haramnya dll. Hanya kemampuan akalnya yang dapat mengerem semua tindakan emosionalnya dan jika akalnya tidak dapat menjadi rem yang baik maka, terapi yang baik adalah latihan membiasakan diri menahan dari tindakan emosional, lewat system puasa, adri sini akan lahir pengalaman baru dan kepribadian baru.
Perilaku Puasa
Dari pemikiran diatas, maka selayaknya orang berpuasa menyadari bahwa dirinya menghadapi latihan pengendalian dari berbagai emosi dan selalu melakukan evaluasi, khusunya pada akhir Ramadhan dengan I’tikaf. Dengan ini maka, perilaku orang yang berpuasa tidak hanya sekedar tidak makan-tidak minum, akan tetapi yang lebih dominana adalah menjaga tingkat emosi kita dalam menghadapai berbagai hal,tidak makan dan tidak minum bukan tujuanm ia hanya merupakan system utnuk latihan pengendalian emosi.
Menjaga emosi disaat orang dalam keadaan lapar memang berat karena pada kondisi ini seseorang mudah emosi sehingga perlu bagi rang berpuasa membuat system pengendalian emosi sebagai berikut:
1. Sistem kesadaran
Kesadaran doktriner
a. Kesadaran tentang larangan menuruti emosi
b. Kesadaran bahwa kami sedang latihan dan diuji untuk mengendalikan emosi
c. Bilamana berkaitan dengan orang lain mudah memaafkan
Kesadran pragmatis, membiasakan diri untuk melakukan tindakan atau perbuatan dengan mempertimbangkan fitrah manusia yakni benar dan salah, untung dan rugi.
2. Menutup jalan emosi
Orang yang emosi pasti ada sebab dan akibatnya, sebabnya bias lewat budaya,pembiasaan,kekeliruan, atau penyakit akibatnya dapat ke pikiran dan ke fisik, utnuk mentup jalan yang dapat membawa emosi yang berhubungan dengan sebab dapat dilakukan dengan mengoreksi budaya, tidak melakukan pembiasaan emosi atau tidak tergesa gesa dalam merespon, sedagkan yang berkaitan dengan aspek piker dapat dilakukan dengan cara mengabaikan atau berpikir positif modelnya bias lewat dzikir, meningakatkan kesibukan dan silaturahmi. Bilamana telah sampai ke jantung dapat dilakukan dengan cara latihan pernafasan.
3. HIjrah, tidak memasuki pada jaln jalan atau aktifitas yang dapat mengantarkan kita pada tindakan emosional, langkah ini dipandang sebagai yang terakhir karena system hijrah punya konsekuensi tinggi yaitu harus melepaskan segala hal hal yang positif. Perlu saya tekankan disini emosi bukan gambaran dari kekerasan meliankan juga dapat berbentuk keharmonisan, cinta kasih dan belas kasihan. Standarnya ialah tindakan yang tidak berdasarkan pengamatan empiris, benar salah, pertimbangan untung rugi melainkan Karena dororngan dorongan perasaan yang berkobar kobar.
Sistem perilaku praktis ialah:
1. Melaksanakan puasa dapat diterima dengan perasaan lapang, ringan syukur.
2. Dalam menghadapi dorongan emosi makan/minum, khususnya pada waktu berbuka hendaknya dilakukan secara wajar.
3. Bangun malam utnuk melaksanakan sahur hendaknya dilakukan secara rutin dan dengan makan yang bergizi.
4. Melakukan control nila dalam melakukan komunikasi
5. Jangan mengikuti dorongan emosi khusunya emosi seks
Puasa Yang Berhasil
Berdasarkan pemikiran diatas, utnuk mengukur keberhasilan dan kegagalan dalam berpuasa dapat dilihat dari kemampuannya mengendalikan emosi dalam menjalankanperintah Allah dengan menjalankan perintah Allah dan menghadapi hambatannya maka nilai keberhasilannya tinggi sebaliknya orang yang tidak ada perubahan mengendalikan emosi dalam melaksanakan perintah maka dapat dipastikan kegagalan atau rendahnya kualitas puasanya. Orang yang berhasil puasanya akan mudah menjalankan semua yang diperintahkan Allah meskipun harus mengorbankan segalanya, inilah yang disebut PRIBADI TAKWA
Langganan:
Postingan (Atom)