Jadilah Manusia Yang Bermanfaat Bagi Sesama

Selamat Datang di Blog Saya

Rabu, 27 November 2013

Perilaku Social Media (Hasil Wawancara dengan Ibu Tri Hardiningtyas)


Tri Hardiningtyas lahir di Tegal 28 Mei 1963. Tri Hardiningtyas merupakan lulusan sekolah pascasarjana jurusan ilmu perpustakaan Universitas Indonesia. Sejak tahun 1990 sampai sekarang bekerja di UPT Perpustakaan UNS Surakarta, selanjutnya berkecimpung di dunia perpustakaan sejak diangkat sebagai pustakawan di UNS pada tahun 1999.
Tri Hardiningtyas ingin berbagi ilmu dan pengalaman kepada siapapun salah satunya dengan menulis, khususnya rekan pustakawan, pemerhati perpustakaan, dan dunia perpustakaan pada umumnya. Harapannya apa yang ditulis, apa yang dilakukan dapat bermanfaat bagi siapa pun.
Beliau selain sebagai pustakawan juga mengajar di D3 Ilmu Perpustakaan UNS dan mengarang buku. Adapun buku yang telah terbit dengan judul  Peduli Perpustakaan dan Serbaneka pelayanan perpustakaan
Media social adalah suatu media online yang digunakan untuk menyampaikan informasi, berinteraksi, berkomunikasi, berbagi ilmu dan pengalaman kepada orang lain. Adapun media yang digunakan seperti facebook, twitter,  blog, linkin, dan myspace
Sedangkan Ibu Tri Hardingingtyas memberikan gambaran tentang media social adalah sebuah sarana untuk menyebarluaskan informasi, media promosi, tempat berbagi ilmu , alat berinteraksi dan berkomunikasi antar pustakawan. untuk mempromosikan ilmu pengetahuan, informasi melalui facebook, blog, twitter, email dan lain sebagainya.
Adapun media social yang digunakan oleh Ibu Tri Hardingingtyas antara lain facebook, blog dan email. Beliau dapat dihubungi melalui email thardiningtyas@yahoo.co.id atau thardiningtyas@gmail.com  dapat juga melalui facebook https://www.facebook.com/#!/ thardiningtyas?fref=ts dan  blog trihanda.blogspot.com
Menurut ibu Tri Hardiningtyas tujuan menggunakan social media  antara lain:
1.      Sebagai alat mempromosikan karya ilmiah
2.      Menyebarluaskan informasi
3.      Berbagi ilmu pengetahuan
4.      Mencari dan  menambah teman
5.      Silahturahim antar pustakawan dan masyarakat umum
6.      Sebagai alat mempromosikan perpustakaan
7.      Pengumuman tentang jam buka perpustakaan
8.      Untuk tempat berlatih menulis

Selasa, 19 November 2013

Pelayanan Sumber Informasi di UPT Perpustakaan UNS (Antara Kenyataan dan Harapan)

Oleh Bambang Hermanto (Pustakawan UNS)

Pendahuluan
Sudah menjadi tuntunan zaman bahwa perpustakaan didirikan tidak hanya sekedar untuk mengumpulkan, menyiapkan, dan meninjamkan buku-buku dan bahan-bahan lainnya kepada pemustaka akan tetapi mempunyai tugas dalam pemberian pelayanan yang bersifat lebih luas dan lebih aktif lagi.
Informasi di berbagai bidang dan sektor berkembang sangat pesat seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi karena adanya globalisasi di bidang teknologi informasi dan telekomunikasi. Banyak hasil karya dan publikasi dihasilkan oleh lembaga atau penerbit.  Karya-karya tersebut di publikasi secara tercetak dan secara elektronis yang dapat diakses melalui internet. [1]
Perpustakaan perguruan tinggi merupakan unit pelaksana teknis perguruan tinggi yang bersama-sama dengan unit lain turut melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan cara memilih, menghimpun, mengolah, merawat dan melayankan sumber informasi kepada lembaga induknya pada khususnya dan masyarakat akademis pada umumnya[2]
UPT Perpustakaan UNS yang berada di tengah-tengah kampus UNS menjadi salah satu sarana kelengkapan pendidikan dalam melayani civitas akademika UNS , lembaga atau instansi lain dalam bidang informasi dan pustaka. UPT Perpustakaan UNS memiliki koleksi 171.071 judul berjumlah 328.702 buku/keeping/file untuk menunjang program UNS. Pelayanan koleksi dilakukan dengan sistem terbuka (open access), yaitu para pemakai jasa perpustakaan dengan bebas memilih, mengambil sendiri koleksi yang dikehendaki untuk dibaca sekilas atau dipinjam[3]
Kualitas pelayanan perpustakaan perguruan tinggi dapat ditunjukkan dari persepsi pemustaka terhadap perpustakaan, yaitu kualitas yang dipikirkan oleh pemustaka setelah mendapatkan pelayanan. Komponen penting dalam pengukuran kualitas pelayanan adalah pelayanan yang diharapkan dan pelayanan yang diterima. Kualitas pelayanan dipersepsikan baik apabila pelayanan yang diberikan perpustakaan sesuai atau bahkan melebihi apa yang diharapkan pemakai.[4]
Perpustakaan sebagai sumber informasi akan dimanfaatkan pemustaka apabila sumber informasi dikelolanya dengan baik dan mempunyai pustakawan yang dapat menjadi perantara antara pemustaka dan sumber informasi.[5] 
Hal tersebut merupakan persoalan yang perlu mendapat tanggapan positif dari perpustakaan sebagai salah satu lembaga penyedia informasi. Harapan untuk mendapatkan informasi yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka berada pada pundak perpustakaan dan pustakawan.

Permasalahan
            Dari uraian diatas dapat maka muncul pemasalahan “Bagiaman kualitas pelayanan sumber informasi  di UPT Perpustakaan UNS  ?

Pembahasan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia[6] pengertian pelayanan adalah merupakan kemudahan yang diberikan sehubungan dengan proses jual beli barang dan jasa. Sedangkan menurut Fred Luthans yang dikutip dalam bukunya Moenir (1995:16) pelayanan adalah sebuah proses pemenuhan kebutuhan melalui aktifitas orang yang menyangkut segala usaha yang dilakukan orang lain dalam rangka mencapai tujuannya. Menurut  Fandy Tjiptono [7] definisi jasa (layanan) adalah setiap tindakan atau perbuatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya bersifat intangible yang berhubungan dengannya, yang melibatkan beberapa interaksi dengan konsumen atau dengan properti dalam kepemilikannya dan tidak menghasilkan transfer kepemilikan.  Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa  :            
a.       Pelayanan merupakan suatu kemudahan yang timbul karena adanya transaksi jual beli barang dan jasa
b.      Pelayanan merupakan suatu proses pemenuhan kebutuhan melalui suatu aktifitas atau kegiatan orang lain
c.       Pelayanan memiliki unsur ketidakwujudan (intangbility)
d.      Subyek pelayanan adalah pelanggan yang dapat memberikan suatu reaksi yang berbeda terhadap pelayanan yang kelihatannya sama
Sedangkan informasi secara istilah memiliki pengertian yang beragam. Dalam bidang ilmu perpustakaan dan informasi, informasi telah diartikan oleh para pakar sbb:
a.       Soejono Trimo mengartikan informasi sebagai “data yang telah diproses” [8]
b.      Sondang P. Siagian memaknai informasi sebagai data yang sudah diolah  sedemikian rupa menjadi sebuah informasi. Hanya informasilah yang mempunyai
nilai untuk memudahkan orang mengambil keputusan [9]
c.       Putu Laxman Pendit menyebutkan tiga pengertian informasi. Secara sempit informasi berarti serangkaian sinyal atau pesan-pesan yang diperlukan dalam pengambilan keputusan. Secara luas, pengertian informasi berkaitan dengan proses kognitif dan kemampuan memahami pada diri manusia. Informasi dalam pengertian paling luas (broadest sense) tidak hanya terpaku pada pesan (pengertian sempit) atau proses kognitif (pengertian luas) semata, tetapi lebih dari itu selalau berhubungan dengan konteks sosialnya berupa situasi, persoalan, kaitan tugas dan sebagainya.         [10]         
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa informasi adalah data yang sudah diolah, atau sebagai hasil dari proses pengolahan data.  Informasi merupakan data yang memiliki makna dan manfaat, karena dapat dijadikan pegangan untuk sebuah argumentasi atau pengambilan keputusan. Jadi pelayanan informasi adalah pemberian layanan kepada masyarakat yang mempunyai kepentingan dalam pemenuhan kebutuhan akan informasi dengan mematuhi peraturan-peraturan yang telah ditetapkan serta prosedur yang ditentukan                                                                                                                     Untuk bisa memberikan layanan yang sesuai dengan kebutuhan user maka perpustakaan sebagai salah satu lembaga penyedia informasi harus memiliki visi yang jelas dan dapat menjawab tantangan dari masa ke masa. Pada dasarnya Visi Perpustakaan apapun jenis perpustakaannya adalah memberdayakan koleksi bahan pustaka dan memberikan kemudahan, ketersediaan, kenyamanan serta layanan yang optimal demi kepuasan penggunanya.                                                                                                Soejono Trimo [11]  mengatakan bahwa : Library is the preservation of knowledge artinya memburu, mengumpulkan, menyimpan, mengolah dan melayankan ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya baik dalam bentuk tercetak maupun elektronik. Dengan demikian fungsi perpustakaan adalah sebagai jembatan atau perantara antara koleksi dengan pengguna, sebagai penghubung antara bahan pustaka dengan masyarakat. Bagaimana masyarakat dapat mengetahui informasi yang ada dalam bahan pustaka ataupun sebaliknya bagaimana agar informasi dapat sampai kepada masyarakat yang membutuhkannya.
Jenis-jenis layanan di UPT Perpustakaan UNS [12]…………………………………….
      a.   Layanan sirkulasi dan koleksi, layanan peminjaman dan pengembalian buku
  1. Layanan referensi dan penelusuran informasi
  2. Layanan holiday loan, merupakan layanan yang diberikan menjelang hari libur dan dikembalikan pada hari pertama masuk sebelum jam 9.00 wib
  3. Layanan bimbingan pemustaka, misalnya ceramah, diskusi, orientasi perpustakaan
  4. Layanan TA, skripsi, thesis dan desertasi, Koleksi ini dalam bentuk hard kopi yang disusun dan dikelola berdasarkan fakultas. Pemustaka dapat baca ditempat dan fotokopi lewat pustakawan
  5. Layanan pengetikan, perpustakaan menyediakan 9 komputer dan printer untuk dimanfaatkan pemustaka dalam menyelesaikan tugas perkuliahan
  6. Layanan internet, dimana internet merupakan media komunikasi  yang menawarkan berbagai fasilitas dan memperpendek komunikasi
  7. Layanan majalah dengan berlangganan beberpa judul majalah dan jurnal untuk dibaca ditempat dan foto kopi
  8. Layanan bebas perpustakaan, merupakan layanan kepada pemustaka dengan cara  memberikan surat bebas pinjam untuk syarat wisuda
  9. Layanan kartu anggota
  10. Pelayanan ruang baca, perpustakaan menyediakan ruang untuk membaca di tempat. Penyediaan fasilitas ruang tersebut dimaksudkan untuk menunjang kegiatan belajar
  11. Penyajian informasi terbaru/current awareness service (CAS), merupakan sistem penyajian informasi dengan menyiagakan informasi baru lalu segera menyampaikannya kepada pemustaka
Adapun jenis koleksi yang dimiliki UPT Perpustakaan UNS adalah [13]……………….
      a.  Koleksi buku-buku terdiri dari buku teks
b.      Koleksi terbitan berkala, terdiri dari majalah, buletin, koran, jurnal, laporan penelitian, dan pengabdian pada masyarakat,
c.       Koleksi khusus, terdiri dari: tesis, skripsi, desertasi dan TA
d.      Koleksi elektronik, terdiri dari e-journal, e-book, digital library, CD, kaset, dan disket
Layanan informasi perpustakaan yang jadi harapan pemustaka
Dalam perannya perpustakaan menyediakan dan melayankan segala informasi akan menghadapi berbagai kategori informasi atau produk yang dihasilkan untuk dilayankan kepada pemustaka. Adapun layanan informasi yang dibisa dikembangkan di UPT Perpustakaan UNS antara lain :
a.       Penyajian informasi terbaru/current awareness service (CAS), merupakan sistem penyajian informasi dengan menyiapkan informasi baru lalu segera menyampaikannya kepada pemustaka. Pemustaka dapat memilih judul artikel yang cocok dan sesuai dengan kebutuhannya
b.      Information refererral, layanan perpustakaan yang diberikan kepada pemustaka dengan menunjuk atau me-refer kepada lembaga lain. Misalnya seorang pembaca menanyakan bagimana mendapatkan informasi mengenai KB? Maka pustakawan menunjuk BKKBN untuk mendapat informasi yang lebih kelas dan akurat
c.       Selective Dissemination of Information (SDI), Penyebaran informasi terp[ilih untuk perpustakaan yang sudah berkomputer atau ada akses data bank informasi dapat memilih judul-judul dan abstraknya kemudain diberikan kepad pembaca yang memesannya
d.      Current contents , merupakan layanan informasi dari isi majalah terbaru
e.       Layanan bibliografi, jasa layanan perpustakaan dalam bentuk pustakawan memberikan bantuan kepada pemustaka untuk menemukan informasi literatur mengenai suatu subyek tertentu.  Bibliografi disediakan dipeprustakaan untuk memberi kesempatan kepada pemustaka untuk mendapatkan informasi litertur yang diiinginkan meskipun literatur tersebut tidak tersedia di perpustakaan.
f.       Informasi, misalnya tentang arah ke loket peminjaman, jam buka perpustakaan, kondisi statistik koleksi, denda, pembayaran bebas pustaka dll
g.      Konsultasi, seperti pemberian saran atau konsultasi penelusuran informasi, manajemen perpustakaan
h.      Order taking, meliputi aplikasi atau pendaftaran keanggotaan pada jasa pelayanan
i.        Exceptions, yang meliputi permintaan khusus sebelum menyampaikan produk jasa, mengenai komplain saran dan pujian pengguna, pemecahan masalah dan kesulitan-kesulitan yang timbul berkaitan dengan masalah staf perpustakaan

Strategi peningkatan kualitas layanan
Pada dasarnya perpustakaan yang baik dapat diukur dari keberhasilannya dalam menyajikan pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat pemakainya. Lengkapnya fasilitas yang ada, besarnya dana yang disediakan dan banyaknya tenaga pustakawan tidak berarti apa-apa apabila perpustakaan tersebut tidak mampu menyediakan pelayanan yang berkualitas.
Zeithaml et al  dalam Syihabuddin Qalyubi [14] terdapat lima prinsip yang harus diperhatikan oleh pengelola perpustakaan agar kualitas layanan dapat dicapai yaitu
a.           Tangible, yaitu bentuk fasilitas fisik, sarana, personalia, dan media komunikasi.
b.          Reliabilitas, yaitu kemampuan menyajikan layanan yang dijanjikan secara akurat dan merdeka.
c.           Responsivitas, yaitu kemampuan membantu konsumen dan penyediaan layanan yang cepat.
d.          Jaminan, yaitu pengetahuan dan rasa hormat petugas perpustakaan dan kemampuannya dalam menyakinkan dan dapat dipercaya.
e.           Empati, yaitu  perhatian terhadap setiap pemakai secara individu.
Selain itu kualitas layanan di perpustakaan juga ditentukan oleh beberapa hal yaitu   ketersediaan informasi,  kemudahan akses informasi, keakuratan informasi, kelengkapan informasi, kelayakan sumber informasi dan ketepatan waktu
 Beberapa strategi yang dapat digunakan dalam meningkatkan kualitas layanan perpustakaan antara lain :     
  1. Pengembangan database yang lebih akurat, termasuk data kebutuhan dan keinginan setiap segmen pemakai dan perubahan kondisi
  2. Pustakawan mempunyai kemampuan memahami kebutuhan dan keinginan pemustaka serta memahami tipe-tipe pemustaka
  3. Pemanfaatan informasi yang diperoleh dari riset pasar dalam suatu kerangka strategis
  4. Pemustaka mampu menjalin kemitraan dengan pemustaka secara terus menerus kemudian menimbulkan kesetiaan pemustaka kepada perpustakaan
  5. Menawarkan pelayanan yang lebih menarik
  6. Strategi yang berintikan komitmen untuk memberikan kepuasan pemustaka yang akan menjadi sumber dinamisme penyempurnakan mutu pelayanan dan kinerja perpustakaan
  7. Strategi penanganan keluhan yang efekstif dengan cara menyelesaikan penangan keluhan secara baik
  8. Kemudahan bagi pemustaka untuk menghubungi perpustakaan
  9. Alih bentuk informasi atau adanya perubahan bentuk, Agar informasi menjadi menarik maka sebaiknya perpustakaan melakukan berbagai perubahan bentuk (alih bentuk) informasi yang ada pada bentuk-bentuk lain yang lebih menarik sehingga informasi dapat di desiminasikan dengan cepat, tepat, akurat dan global. Adapun ben
·         Bahan Pustaka tercetak ke bahan pustaka tercetak
·         Bahan Pustaka tercetak ke bahan pustaka elektronik
·         Bahan Pustaka elektronik ke bahan pustaka tercetak
·         Bahan Pustaka elektronik ke bahan pustaka elektronik
  1. Adanya faktor pendukung dalam pelayanan antar lain :
    • Koleksi / bahan pustaka, merupakan faktor utama dalam layanan perpustakaan. Bahan Pustaka dapat dilihat dari jenis dan bentuknya. Jenis bahan pustaka meliputi koleksi : 1) tercetak; 2) tergambar; 3) terbentuk dan 4) elektronik seperti : terekam, mikro, web. Adapun bentuk koleksi bahan pustaka dapat berbentuk (1) lembaran; (2) lipatan; (3) bendelan/jilidan; (4) rekaman; (5) dll.
    • User/pengguna adalah masyarakat yang datang untuk memanfaatkan koleksi yang ada. Agar dapat memberikan layanan yang baik maka pengelola perpustakaan harus memperhatikan jurusan dan fakultas dari pemustaka
    • Tenaga atau pengelola perpustakaan, dalam hal ini perlu dibedakan antara tenaga fungsional (pustakawan) dengan tenaga administrasi (non pustakawan). Disamping itu perlu diperhatikan bahwa pengelola perpustakaan sebaiknya : (1) Memiliki pendidikan tentang kepustakawanan; (2) Memiliki ketrampilan pemanfaatan teknologi informasi; (3) Memiliki ketrampilan bahasa; (4) Mengetahui kebutuhan pemakainya; dan (5) Memiliki sense of media.
    • Fasilitas, merupakan sarana dan prasarana yang disediakan oleh perpustakaan demi memberikan layanan kepada pemustaka
    • Anggaran, merupakan kesiapan biaya/anggaran yang dapat dipakai dalam segala kegiatan di perpustakaan yang dapat diperoleh dari : APBN, APBD/DIPA, dan  mahasiswa baru
    • managemen, merupakan sistem perencanaan, pengorganisasian, pengelolaan serta evaluasi kegiatan di perpustakaan yang meliputi kebijakan pengambil keputusan (decision maker).

Kesimpulan
Perpustakaan yang baik dapat diukur dari keberhasilannya dalam menyajikan pelayanan yang berkualitas kepada pemustaka. Lengkapnya fasilitas yang ada, besarnya dana yang disediakan dan banyaknya tenaga pustakawan tidak berarti apa-apa apabila perpustakaan tersebut tidak mampu menyediakan pelayanan yang berkualitas.
Perpustakaan didirikan tidak hanya sekedar untuk mengumpulkan, menyiapkan,  meminjamkan buku-buku dan bahan-bahan lainnya kepada pemustaka  tetapi mempunyai tugas dalam pemberian pelayanan yang lebih luas dan lebih aktif lagi. Dibutuhkan kejelian, keseriusan, kemampuan dan kemauan dari UPT Perpustakaan UNS secara institusi maupun pengelolanya selaku pelaksana kegiatan agar dapat memberikan layanan yang optimal dalam rangka memberikan kepuasan pemustaka. UPT Perpustakaan UNS dapat menerapkan strategi baru untuk pengembangan pelayanan informasi dan melakukan pengemasan ulang koleksi dalam bentuk digital.

 
Daftar Pustaka


------------ 1997. Kamus besar bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka                     
Pendit, Putu Laxman. 2003. Penelitian Ilmu Perpustakaan dan Informasi : Suatu
             Pengantar Diskusi Epistemologi dan Metodologi.
Jakarta : JIP-FSUI             
 Profil UPT Perpustakaan UNS. 2011. http://uns.ac.id/perm_perpustakaan-pusat.html
           
diakses tgl. 4 Januari 2013 jam 9.45 wib
Qalyubi, Syihabuddin dkk 2003.  Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan Dan Informasi.
            Yogyakarta : IAIN  Sunan Kalijaga
Sri Hartinah. 2010 Penelusuran Literatur. Jakarta : UT
Siagian, Sondang P. 1979. Sistem Informasi untuk Pengambilan Keputusan. Jakarta :
            Gunung Agung
Siagian, Sondang P. 2005. Sistem Informasi Manajemen. Jakarta : Bumi Aksara
Tjiptono, Fandy.  1996. Manajemen Jasa. Yogyakarta : Andi
Trimo, Soejono. 1981. Buku Panduan Ringkas bagi Usaha Penyempurnaan Pusat
            Dokumentasi Riset
. Bandung: PIP-FIP-IKIP.
Yuventia, Yuniwati http://digilib.undip.ac.id/index.php/component/content/article/38-
         artikel/48-manajemen-layanan-informasi-di-perpustakaan diakses tgl. 4 Januari
          2013 jam 8.30 WIB
Undang-Undang RI No 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan



                [1]  Sri Hartinah,  Penelusuran Literatur  ( Jakarta: 2010 ),  hal. 1.2
[2] Syihabuddin Qalyubi dkk,  Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi  (Yogyakarta : 2003), hal. 10
[3] Profil UPT Perpustakaan UNS. http://uns.ac.id/perm_perpustakaan-pusat.html diakses tgl. 4 Januari 2013 jam 9.45 WIB
[4]  Fandy Tjiptono,  Manajemen Jasa ( Yogyakarta : 1996),  hal. 51
[5]  Sri Hartinah,  Penelusuran Literatur, hal. 1.2
[6]  Kamus Besar Bahasa Indonesia ( Jakarta : 1996), hal. 571
[7]  Fandy Tjiptono, Manajemen Jasa, hal. 6
[8]  Soejono Trimo, Buku Panduan Ringkas bagi Usaha Penyempurnaan Pusat Dokumentasi Riset (Bandung:1981)
[9] Sondang P. Siagian, Sistem Informasi untuk Pengambilan Keputusan  (Jakarta : 1979), hal. 51
[10]  Putu Luxman Pendit, Penelitian Ilmu Perpustakaan dan Informasi : Suatu Pengantar Diskusi Epistemologi dan Metodologi  (Jakarta : 2003)
[11]  Soejono Trimo, Buku Panduan Ringkas bagi Usaha Penyempurnaan Pusat Dokumentasi Riset,  hal.2
[12]  M. Radjiem,  Wawancara dengan Koordinator Pendidikan Pemakai dan Promosi Perpustakaan UNS Pada Tanggal 2 Januari 2013 Jam. 10.00 WIB
[13] Ibid
[14]  Syihabuddin Qalyubi dkk,  Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi, hal. 219

Kamis, 16 Agustus 2012

Mengukur kegagalan dan keberhasilan Puasa

Sumber dari : http://arif-dian.blogspot.com/2010/08/mengukur-kegagalan-dan-keberhasilan.html

Dalam kita melaksanakan semua perintah, termasuk perintah Allah, idealnya, memahami tujuan perintah tersebut, agar dapat mencapai hasil yang maksimal dan mengetahui sejauh mana kualitas pekerjaan kita, tingkat keberhasilan kita dan segalanya. Seorang anak yang melaksanakan perintah orang tuanya agar bersekolah bilamana ia tidak mengerti untuk apa dia bersekolah atau ia tidak mengerti tujuan orang tua nya untuk apa ia bersekolah, akibatnya anak itu menjalankan asal asalan saja.

Demikian halnya, dalam kita melaksanakan puasa orang yang mengetahui tujuan puasa dalam menjalankan ibadah puasa juga akan berbeda baik dalam penerapannya maupun dalam hasil yang diperolehnya berkaitan dengan pengetahuan atau kepribadian. Allah dalam memberikan perintah biasanya ditunjukkan juga tujuannya, tetapi sifatnya masih umum, menegani detailnya diserahkan kepada manusianya sendiri untuk mencarinya karena al quran merupakan petunjuk yang bersifat umum. baca selengkapnya


TUJUAN BERPUASA
Tujuan berpuasa sebagaimana tertulis dalam QS Al Baqarah 183. Kalau menurut tinjauan Syar’inya, seperti tertulis dalam QS Al Baqarah 177 yakni
“ Bukanlah menghadapkan wajahmu kearah timur dan barat itu suatu kebajikan akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, Hari kemudian, malaikat malaikat, kitab kitab, nabi nabi dan memberikan musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang yang meminta minta dan hamba sahaya, mendirikan sholat dan menunaikan zakat dan orang orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji dan orang orang yang sabar dalam kesempitan dan penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang yang benar dan mereka itulah orang yang bertaqwa. “

Tujuan puasa tidak mengarah pada pembentukan kesehatan seperti olah raga melainkan pembentukan moral dan perilaku yang sesuai dengan nilai dan norma dalam Islam.

Sekarang kita perlu pahami mengenai hubungan apa, jalinan system yang bagaimana, antara puasa dengan pembentukan kepribadian taqwa, bagaimana prosesnya puasa dapat membangun seseorang menjadi pribadi takwa, pribadi yang dapat menghindari diri dari kedosaan dan berpacu dalam kebaikan. Dari landasaan tujuan ini, akan dapat dijadikan standar untuk mengukur keberhasilan dan kegagalan seseorang muslim dalam berpuasa. Tapi permasalahan hidup beragama atau pengabdian diri kepada Allah tidak cukup dengan mendapat pengakuan saja melainkan yang lebih penting adalah kualitasnya, karena kualitas itu akan menjadi bekal menghadapi tantangan hidup dijalan Allah, tanpa kualitas hampir dipastikan mereka akan gagal menghadapi tantangan hidup dijalan Allah.

Proses Puasa Ke Takwa

Kata puasa atau kata ashiiyam, menurut al Maraghi ialah mengekang rasa, menahan diri dari sesuatu, makna khusunya ialah menahan diri tidak makan tidak minum dan bersetubuh sejak fajar hingga matahari terbenam. Pengertian puasa menurut pandangan kami, dengan bersandar pada realitas psikologis ialah orang yang menahan diri tidak makan ketika dalam diri ada dorongan makan(lapar) menahan minum ketika dalam diri kita ada dorongan minum(haus) menahan dorongan menyalurkan seks ketika ada rangsangan seks. Menahan diri dari mencela,menghibah,menghina, menyombongkan diri ketika ada dorongan emosi tersebut, untuk suatu tujuan membangun kepribadian tangguh, orang yang tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan emosinya ,bangunan pribadinya akan labil dan ditentukan oleh keadaan perasaannya.

Allah menjadikan manusia sebagai makhluk yang berakal, juga berperasaa, dengan akalnya, manusia dapat mengenal berbagai realitas alam dan manusia dengan perasaanya manusia dapt merasakan berbagai kenikmatan dan menghindari diri daridari berbagai bentuk kesakitan, baik jasmaniah dan rohaniah. Tapi disisi lain manusia adalah makhluk sosial, ia terikat hukum sosial yakni saling membutuhkan, saling menghargai hak dan kewajiban, saling memelihara lingkungan dari berbagai hal yang dapat merusaknya. Sifat dari akal adalah ialah melihat kenyataan di lapangan, sedangkan sifat dari perasaan adalah menuntut terpenuhi gejolak rasanya tanpa melihat hak dan kewajibansosial ketika manusia merasakan lapar akalnya berjalan untuk memenuhi kebutuhan perasaan laparnya, tetapi ia juga memperhatikan makanan apa yang boleh dimakan dan makanan apa yang tidak boleh dimakan, sedangkan perasaan laparnya tidak memeperdulikan itu semua ia hanya ingin sesuatu yang dapat memenuhi rasa laparnya apakah makana tersebut dimasukkan dari hasil mencuri atau bekerja. Ketika manusia dalam perasaan marah, secara perasaan ingin melampiaskan seluruh kemarahannya kepada orang yang membuuat marah tanpa melihat akibat yang ditimbulkan, atau ketika seorang terlibat dalam rasa cinta, ada dorongan kuat untuk menyalurkan seluruh rasa cintanya pada mereka yang dicintai dalam bentuk apapun tanpa melihat halal dan haramnya dll. Hanya kemampuan akalnya yang dapat mengerem semua tindakan emosionalnya dan jika akalnya tidak dapat menjadi rem yang baik maka, terapi yang baik adalah latihan membiasakan diri menahan dari tindakan emosional, lewat system puasa, adri sini akan lahir pengalaman baru dan kepribadian baru.

Perilaku Puasa

Dari pemikiran diatas, maka selayaknya orang berpuasa menyadari bahwa dirinya menghadapi latihan pengendalian dari berbagai emosi dan selalu melakukan evaluasi, khusunya pada akhir Ramadhan dengan I’tikaf. Dengan ini maka, perilaku orang yang berpuasa tidak hanya sekedar tidak makan-tidak minum, akan tetapi yang lebih dominana adalah menjaga tingkat emosi kita dalam menghadapai berbagai hal,tidak makan dan tidak minum bukan tujuanm ia hanya merupakan system utnuk latihan pengendalian emosi.
Menjaga emosi disaat orang dalam keadaan lapar memang berat karena pada kondisi ini seseorang mudah emosi sehingga perlu bagi rang berpuasa membuat system pengendalian emosi sebagai berikut:

1. Sistem kesadaran

Kesadaran doktriner
a. Kesadaran tentang larangan menuruti emosi
b. Kesadaran bahwa kami sedang latihan dan diuji untuk mengendalikan emosi
c. Bilamana berkaitan dengan orang lain mudah memaafkan

Kesadran pragmatis, membiasakan diri untuk melakukan tindakan atau perbuatan dengan mempertimbangkan fitrah manusia yakni benar dan salah, untung dan rugi.

2. Menutup jalan emosi

Orang yang emosi pasti ada sebab dan akibatnya, sebabnya bias lewat budaya,pembiasaan,kekeliruan, atau penyakit akibatnya dapat ke pikiran dan ke fisik, utnuk mentup jalan yang dapat membawa emosi yang berhubungan dengan sebab dapat dilakukan dengan mengoreksi budaya, tidak melakukan pembiasaan emosi atau tidak tergesa gesa dalam merespon, sedagkan yang berkaitan dengan aspek piker dapat dilakukan dengan cara mengabaikan atau berpikir positif modelnya bias lewat dzikir, meningakatkan kesibukan dan silaturahmi. Bilamana telah sampai ke jantung dapat dilakukan dengan cara latihan pernafasan.

3. HIjrah, tidak memasuki pada jaln jalan atau aktifitas yang dapat mengantarkan kita pada tindakan emosional, langkah ini dipandang sebagai yang terakhir karena system hijrah punya konsekuensi tinggi yaitu harus melepaskan segala hal hal yang positif. Perlu saya tekankan disini emosi bukan gambaran dari kekerasan meliankan juga dapat berbentuk keharmonisan, cinta kasih dan belas kasihan. Standarnya ialah tindakan yang tidak berdasarkan pengamatan empiris, benar salah, pertimbangan untung rugi melainkan Karena dororngan dorongan perasaan yang berkobar kobar.
Sistem perilaku praktis ialah:

1. Melaksanakan puasa dapat diterima dengan perasaan lapang, ringan syukur.
2. Dalam menghadapi dorongan emosi makan/minum, khususnya pada waktu berbuka hendaknya dilakukan secara wajar.
3. Bangun malam utnuk melaksanakan sahur hendaknya dilakukan secara rutin dan dengan makan yang bergizi.
4. Melakukan control nila dalam melakukan komunikasi
5. Jangan mengikuti dorongan emosi khusunya emosi seks

Puasa Yang Berhasil

Berdasarkan pemikiran diatas, utnuk mengukur keberhasilan dan kegagalan dalam berpuasa dapat dilihat dari kemampuannya mengendalikan emosi dalam menjalankanperintah Allah dengan menjalankan perintah Allah dan menghadapi hambatannya maka nilai keberhasilannya tinggi sebaliknya orang yang tidak ada perubahan mengendalikan emosi dalam melaksanakan perintah maka dapat dipastikan kegagalan atau rendahnya kualitas puasanya. Orang yang berhasil puasanya akan mudah menjalankan semua yang diperintahkan Allah meskipun harus mengorbankan segalanya, inilah yang disebut PRIBADI TAKWA

Senin, 14 Mei 2012

KARYAWAN, DOSEN DAN KAPRODI BERPRESTASI 2011

Bertepatan dengan Upacara Hari Pendidikan Nasional yang telah diselenggarakan oleh UNS pada tanggal 2 Mei 2011 di Halaman Kantor Pusat, diumumkan peringkat/ranking staf UNS berprestasi dari masing-masing bidang pemilihan meliputi: Tenaga Administrasi Akademik Berprestasi, Pustakawan Berprestasi, Laboran Berprestasi, Pengelola Keuangan Berprestasi, Dosen Berprestasi, dan Ketua Program Studi (Kaprodi) Berprestasi.
Hasil dari lomba sebagai berikut:
  1. Tenaga Administrasi Akademik Berprestasi, diraih oleh: peringkat 1 Tunggul Ardhi, S.Si (Bagian Pendidikan); peringkat 2 Sri Slamet Rahayu, A.Md (Fakultas Teknik); peringkat 3 Tetri Wahyu Aryanti, S.S (Fakultas Ekonomi)
  2. Pustakawan Berprestasi diraih oleh: peringkat 1 Bambang Hermanto, S.Pd. (UPT Perpustakaan), peringkat 2 Sri Utari, S.E. (Fakultas MIPA), peringkat 3 Hariyanto, S.IP (Fakultas Hukum)
  3. Laboran Berprestasi diraih oleh: peringkat 1 Ngadimin, S.Kom (Fakultas Ekonomi), peringkat 2 Sakroni, S.Kom (Fakultas MIPA), peringkat 3 Sulistyo, S.T. (Fakultas Pertanian)
  4. Peringkat Pengelola Keuangan Berprestasi diraih oleh: peringkat 1 Dwi Wahyudi, A.Md. (Bagian Keuangan), peringkat 2 (Dony Setiyawan (Bagian Keuangan), peringkat 3 Inggih Wigati, A.Md. (Fakultas Teknik). Sebagai penghargaan bagi yang telah berprestasi masing-masing akan mendapatkan reward: 1) peringkat 3 sebesar Rp 1.000.000,-; peringkat 2 sebesar Rp 1.500.000,- dan peringkat 1 sebesar Rp 2.000.000,-.
  5. Dosen Berprestasi diraih oleh: Juara 1 Dr. Samanhudi (Fakultas Pertanian), Juara 2 Drs. Sulistyo Saputro, M.Si. (Fakultas KIP), Juara 3 Dr. Eng. Agus Purwanto, ST, MT (Fakultas Teknik). Sebagai penghargaan bagi yang telah berprestasi masing-masing akan menerima reward: 1) peringkat 3 sebesar Rp 4.500.000,-; peringkat 2 sebesar Rp 5.500.000,- dan peringkat 1 sebesar Rp 8.000.000,-.
  6. Ketua Prodi Berprestasi adalah: Juara 1 Dody Ariawan, ST, MT (Fakultas Teknik), Juara 2 Dra. Endang Anggarwulan, M.Si. (Fakultas MIPA), Juara 3 Triyanto, S.Si, M.Si. (FKIP).
Sebagai penghargaan bagi yang telah berprestasi masing-masing akan menerima reward: 1) peringkat 3 sebesar Rp 3.000.000,-; peringkat 2 sebesar Rp 4.000.000,- dan peringkat 1 sebesar Rp 6.000.000,-.
(Kantor Humkers UNS).Ditulis pada 5 May 2011
Kategori: Nomor: 18/XVIII/2011

Kamis, 10 Mei 2012

Meningkatkan Kualitas Layanan di Perpustakaan


Penyebab dan Faktor Pencetus Asma

Asma adalah penyakit yang dapat terjadi pada siapa saja dan dapat timbul segala usia, meskipun demikian, umumnya asma lebih sering terjadi pada anak-anak usia di bawah lima tahun dan orang dewasa pada usia sekitar tiga puluh tahunan.

Prof. Dr. dr Heru Sundaru, Sp.PD, KAI dari FKUI Universitas Indonesia mengatakan, “kasus asma pada anak di Indonesia lebih tinggi sedikit dibandingkan dewasa. Kemudian asma pada anak akan hilang sebagian, dan akan muncul lagi setelah dewasa karena perjalanan alamiah”.

Para ahli asma mempercayai bahwa asma merupakan penyakit keturunan dan sebagian besar orang yang menderita asma karena alergi terhadap sumber alergi tertentu (alergen). Alergen merupakan faktor yang berasal dari lingkungan.

Penyebab Penyakit Asma
Istilah penyebab asma sebenarnya kurang tepat karena sampai saat ini penyebab asma belum diketahui. Telah banyak penelitian yang dilakukan oleh para ahli di bidang asma untuk menerangkan sebab terjadinya asma, namun belum satu pun teori atau hipotesis yanga dapat diterima atau disepakati semua para ahli.

Meskipun demikian yang jelas saluran pernapasan penderita asma memiliki sifat yang khas yaitu sangat peka terhadap berbagai rangsangan (bronchial hyperreactivity = hipereaktivitas saluran napas). Asap rokok, tekanan jiwa, alergen pada orang normal tidak menimbulkan asma tetapi pada penderita asma rangsangan tadi dapat menimbulkan serangan.

respon imun

Gambar 1 : Respon Kekebalan Tubuh

Pada penderita asma, penyempitan saluran pernafasan merupakan respon terhadap rangsangan yang pada paru-paru normal tidak akan mempengaruhi saluran pernafasan. Penyempitan ini dapat dipicu oleh berbagai rangsangan, seperti serbuk sari, debu, bulu binatang, asap, udara dingin dan olahraga.

Pada suatu serangan asma, otot polos dari bronki mengalami kejang dan jaringan yang melapisi saluran udara mengalami pembengkakan karena adanya peradangan dan pelepasan lendir ke dalam saluran udara.

Hal ini akan memperkecil diameter dari saluran udara (disebut bronkokonstriksi) dan penyempitan ini menyebabkan penderita harus berusaha sekuat tenaga supaya dapat bernafas.
Sel-sel tertentu di dalam saluran udara (terutama sel mast) diduga bertanggungjawab terhadap awal mula terjadinya penyempitan ini. Sel mast di sepanjang bronki melepaskan bahan seperti histamin dan leukotrien yang menyebabkan terjadinya:
  • kontraksi otot polos
  • peningkatan pembentukan lendir
  • perpindahan sel darah putih tertentu ke bronki.
Sel mast mengeluarkan bahan tersebut sebagai respon terhadap sesuatu yang mereka kenal sebagai benda asing (alergen), seperti serbuk sari, debu halus yang terdapat di dalam rumah atau bulu binatang.

Tetapi asma juga bisa terjadi pada beberapa orang tanpa alergi tertentu. Reaksi yang sama terjadi jika orang tersebut melakukan olah raga atau berada dalam cuaca dingin.Stres dan kecemasan juga bisa memicu dilepaskannya histamin dan leukotrien.

Sel lainnya (eosnofil) yang ditemukan di dalam saluran udara penderita asma melepaskan bahan lainnya (juga leukotrien), yang juga menyebabkan penyempitan saluran udara.

Faktor Pencetus Serangan Asma
Pemicu mengakibatkan terganggunya saluran pernafasan dan mengakibatkan penyempitan dari saluran pernafasan (bronkokonstriksi). Pemicu tidak menyebabkan peradangan. Banyak kalangan kedokteran yang menganggap pemicu dan bronkokonstriksi adalah gangguan pernafasan akut, yang belum berarti asma.

Gejala-gejala dan bronkokonstriksi yang diakibatkan oleh pemicu timbul seketika, berlangsung dalam waktu pendek dan lebih mudah diatasi dalam waktu singkat. Namun saluran pernafasan akan bereaksi lebih cepat bila sudah ada atau terjadi peradangan.
  1. Faktor pada pasien
    • Aspek genetik
    • Kemungkinan alergi
    • Saluran napas yang memang mudah terangsang
    • Jenis kelamin
    • Ras/etnik
  2. Faktor lingkungan
    • Bahan-bahan di dalam ruangan :
      • Tungau debu rumah
      • Binatang, kecoa
    • Bahan-bahan di luar ruangan :
      • Tepung sari bunga
      • Jamur
    • Makanan-makanan tertentu, bahan pengawet, penyedap, pewarna makanan
    • Obat-obatan tertentu
    • Iritan (parfum, bau-bauan merangsang, household spray )
    • Ekspresi emosi yang berlebihan
    • Asap rokok dari perokok aktif dan pasif
    • Polusi udara dari luar dan dalam ruangan
    • Infeksi saluran napas
    • Exercise induced asthma, mereka yang kambuh asmanya ketika melakukan aktivitas fisik tertentu
    • Perubahan cuaca

Sumber : http://medicastore.com/asma/penyebab_dan_faktor_pencetus_asma.php